JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai mengembangkan hunian di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari program perumahan nasional 3 Juta Rumah.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyatakan potensi besar lahan yang dapat dikelola dan dikembangkan perusahaannya lebih dari 327 juta meter persegi.
Di wilayah Jabodetabek saja, KAI memperkirakan potensi pembangunan sekitar 131 ribu unit hunian yang terhubung langsung dengan jaringan transportasi publik.
Proyek pertama yang digarap adalah Rusun MBR Manggarai di Jalan Manggarai Utara I dan II, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet. Lahan yang dipakai seluas sekitar 2,1 hektare dan akan dikembangkan oleh KAI Properti.
Rusun ini direncanakan setinggi 12 lantai. Dua lantai paling bawah akan dijadikan area ritel dan kios, sementara hunian tersedia dalam tipe 45 dan tipe 52.
Pembangunan dilakukan dua tahap: Blok G mulai dikerjakan Agustus 2026 dan Blok F pada Oktober 2026, dengan perkiraan masa konstruksi 10 hingga 15 bulan.
Pencanangan proyek ini dilakukan Senin (16/3/2026) dan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
AHY mengatakan pendekatan hunian vertikal yang menyatu dengan transportasi publik menjadi solusi atas keterbatasan lahan di kota-kota besar. Menurutnya, integrasi ini akan membuat mobilitas warga lebih efisien sekaligus merapikan tata ruang perkotaan.
Stasiun Manggarai dipilih bukan tanpa alasan. Stasiun ini melayani lebih dari 770 perjalanan kereta setiap hari, mulai dari KRL Jabodetabek sekitar 638 perjalanan, Commuter Line Bandara sekitar 70 perjalanan, hingga kereta jarak jauh.
Jumlah pengguna stasiun ini pun terus naik. Pada 2023 tercatat 5,14 juta pengguna, melonjak menjadi 5,57 juta pada 2024, dan mencapai 5,45 juta pada 2025.
Pengembangan serupa juga direncanakan di Stasiun Kiaracondong, kawasan Dr. Kariadi Semarang, dan kawasan Lapangan Mendut Surabaya.
AHY menegaskan pemerintah akan terus mengoordinasikan kementerian, BUMN, dan swasta agar pembangunan hunian terintegrasi ini berjalan efektif dan berkelanjutan.
Optimalisasi lahan KAI diyakini tidak hanya menyediakan perumahan, tapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi.





