SINGAPURA – Indonesia menegaskan posisinya sebagai mitra utama, bukan sekadar penerima, dalam agenda perubahan iklim global. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam forum Ecosperity Week 2026 di Singapura, Selasa (19/5/2026).
AHY menyoroti lambatnya pencairan dana iklim global dan skema pendanaan yang dinilai masih menyerupai utang komersial biasa.
“Negara-negara seperti Indonesia tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai penerima ambisi iklim. Kami adalah mitra utama dalam mewujudkannya,” tegasnya.
Indonesia, kata AHY, siap berkontribusi besar dalam transisi energi dunia. Negara ini memasok sekitar 60 persen kebutuhan nikel tambang dunia dan telah membuka pabrik sel baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara di Karawang, Jawa Barat.
Presiden Prabowo Subianto, menurut AHY, telah menetapkan target mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam 15 tahun ke depan serta membangun lebih dari 75 gigawatt energi terbarukan baru.
Namun AHY mengakui, sebagian besar industri pengolahan nikel nasional masih bergantung pada batu bara. Pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi bersih seperti panas bumi, tenaga surya, dan angin untuk mendukung transisi industri.
AHY juga menyinggung proyek Giant Sea Wall Pantura yang membentang 575 kilometer di lima provinsi dan 25 kabupaten/kota di Pulau Jawa. Proyek itu disebut tidak hanya melindungi garis pantai, tapi juga menjaga ketahanan pangan, air, dan kawasan industri nasional.
Ia turut menyebut rekonstruksi pascabencana Siklon Tropis Senyar di Sumatra bagian utara yang menewaskan lebih dari 1.100 orang sebagai bukti nyata bahwa adaptasi iklim bukan lagi urusan masa depan.
“Adaptasi bukan lagi skenario masa depan. Ia adalah tagihan yang harus dibayar hari ini,” katanya.
AHY menegaskan Indonesia terbuka bekerja sama dengan mitra dari berbagai kawasan, asalkan dibangun atas dasar yang adil.
“Indonesia terbuka bekerja sama dengan mitra dari berbagai kawasan dunia atas dasar yang adil, di mana keuntungan dibagi secara merata, standar dihormati, dan masyarakat lokal merasakan manfaatnya,” katanya.
Jadi kolumnis di Demokrat News!
Tulis apa saja, gaya bebas sesukamu. Cerita-cerita keseharian, pemikiran, atau perasaanmu. Baca ketentuannya di sini.





