Program Layar Pintar Dinilai Perkuat Pembelajaran Digital di Sekolah

oleh -214 Dilihat
oleh
Zaenul Hamdi Soroti Program Layar Pintar
Anggota Komisi V DPRD NTB Lalu Zaenul Hamdi saat memberikan pandangan tentang program layar pintar di Mataram.

MATARAM– Distribusi perangkat layar pintar 75 inci ke sekolah-sekolah di Indonesia dinilai membuka sejumlah peluang transformasi dalam pembelajaran.

Anggota Komisi V DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) dari Fraksi Partai Demokrat, Lalu Zaenul Hamdi, mengatakan program tersebut penting dilihat melalui beberapa sudut pandang strategis.

“Dari sudut penguatan infrastruktur pembelajaran digital, perangkat ini bisa menjadi titik awal bagi sekolah-sekolah yang sebelumnya tidak memiliki sarana teknologi memadai,” kata Zaenul saat ditemui di Mataram, Rabu (19/11/2025).

Menurutnya, akses terhadap perangkat digital menjadi faktor penting untuk memastikan sekolah dapat beradaptasi dengan kebutuhan pendidikan masa kini.

“Dengan adanya perangkat ini, sekolah mulai punya pijakan untuk bergerak ke arah pembelajaran digital yang lebih matang,” katanya.

Dari sisi metodeajar, ia menyoroti bahwa layar interaktif memungkinkan peningkatan kualitas interaksi guru dan siswa. Materi sains, grafik, hingga simulasi visual lebih mudah disampaikan.

“Perangkat seperti ini membantu menghidupkan suasana kelas. Materi yang abstrak bisa divisualkan dengan lebih konkret,” ujarnya.

Zaenul juga menekankan pentingnya pemerataan akses teknologi pendidikan, terutama bagi daerah seperti NTB yang masih mengalami ketimpangan fasilitas. Ia menyebut distribusi perangkat dapat mempersempit kesenjangan antarsekolah.

“Ketika fasilitas mulai merata, peluang belajar anak-anak di berbagai wilayah kan jadi ikut merata,” jelasnya.

Ia menilai integrasi perangkat dengan platform nasional seperti Merdeka Mengajar turut membuka peluang peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan. Guru dapat mengakses modul, pelatihan, dan konten pembelajaran langsung dari perangkat.

“Ini membantu guru yang sedang beradaptasi dengan cara mengajar yang lebih digital dan fleksibel,” tambahnya.

Lebih jauh, Zaenul memandang perangkat layar pintar sebagai pendukung penting bagi pembelajaran hybrid dan kolaboratif. Fitur konferensi video dan kolaborasi digital memudahkan sekolah untuk membuka kelas lintas daerah, menghadirkan narasumber, atau menyelenggarakan sesi pembelajaran alternatif.

“Ini jadi cara belajar yang tidak lagi terpaku pada ruang fisik semata. Saya kira perlu kita dukung bersama, ya,” ujarnya.

Lebih lanjut Zaenul menekankan, momentum ini bisa digunakan untuk evaluasi berbasis data terkait efektivitas pembelajaran digital. Menurutnya, penggunaan perangkat digital akan menghasilkan data yang bermanfaat untuk menilai metode ajar dan capaian siswa.

“Evaluasi yang baik akan menentukan keberlanjutan dan penyempurnaan kebijakan pendidikan ke depan,” ujarnya.

Program pembagian layar pintar ini merupakan bagian dari agenda nasional Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah mengadakan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) berukuran 75 inci dengan harga sekitar Rp 26 juta per unit, termasuk ongkos kirim, asuransi, dan garansi.

Perangkat IFP tersebut berbasis Android 13, memiliki memori 16 GB, terhubung dengan akun Merdeka Mengajar, dan mendukung berbagai aplikasi pembelajaran serta konferensi video. Perangkat juga dilengkapi konektivitas HDMI, USB, dan jaringan WLAN berbagai frekuensi.