JAKARTA – Konsistensi kebijakan dan kepemimpinan jangka panjang menjadi faktor krusial yang harus dimiliki Indonesia untuk mencapai transformasi ekonomi seperti yang dialami China. Hal ini disampaikan pakar ekonomi Shanghai Academy of Social Sciences dalam diskusi yang digelar Badan Riset dan Inovasi Strategis (BRAINS) Partai Demokrat.
Professor Zhang Shaoan dari Shanghai Academy of Social Sciences menekankan transformasi ekonomi China bukanlah hasil instan, melainkan buah dari perencanaan strategis yang dimulai sejak 1978. China memulai dengan reformasi bertahap dan realistis melalui program Gaige Kaifang yang diprakarsai Deng Xiaoping.
“China tidak pernah membangun ekonominya secara serampangan. Sejak 1978, kami mulai dengan reformasi bertahap dan realistis,” ujar Zhang dalam diskusi yang dibuka Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron, Minggu (15/6).
Keberhasilan China juga didukung pembentukan Special Economic Zones (SEZs) sebagai laboratorium liberalisasi ekonomi. Professor Liu Aming, rekan Zhang dari institusi yang sama, mencontohkan transformasi Shenzhen dari desa nelayan menjadi kota industri global.
Menurut Liu, kunci utama kesuksesan tersebut terletak pada keterbukaan terhadap investasi asing dan regulasi yang mendukung inovasi.
Kepala BRAINS Partai Demokrat Ahmad Khoirul Umam menilai Indonesia dapat meniru formula China dengan memastikan stabilitas politik dan arah pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Indonesia membutuhkan institusi kuat, perencanaan jangka panjang, dan komitmen lintas rezim.
“Indonesia harus memastikan stabilitas politik dan arah pembangunan ekonomi yang tidak berubah setiap lima tahun,” tegas Umam.
Sartono, peserta diskusi lainnya, menegaskan pentingnya menghindari tarik-ulur kebijakan setiap pergantian pemerintahan. Menurutnya, reformasi ekonomi akan terhambat jika masih ada kepentingan jangka pendek dan populisme sesaat.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah pakar makro ekonomi dan hubungan internasional untuk mengkaji strategi transformasi ekonomi Indonesia dengan mengambil pelajaran dari pengalaman China.
Jadi kolumnis di Demokrat News!
Tulis apa saja, gaya bebas sesukamu. Cerita-cerita keseharian, pemikiran, atau perasaanmu. Baca ketentuannya di sini.





