JAKARTA – Pemerintah Kota Bima mendapat angin segar dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya berjanji mendukung penuh pengembangan ekonomi kreatif di kota berpenduduk 165 ribu jiwa itu.
Janji tersebut disampaikan saat Wali Kota Bima H. A. Rahman Abidin menemui Menteri Teuku Riefky di Jakarta, Jumat (9/1/2026). Pertemuan berlangsung hangat dengan kehadiran empat deputi dan sejumlah direktur Kementerian Ekonomi Kreatif.
Dalam pertemuan itu, Wali Kota Bima memaparkan berbagai potensi ekonomi kreatif daerahnya. Mulai dari tenun ikat yang menjadi kebanggaan lokal, musik, kuliner, fashion, fotografi, konten digital, film, hingga seni rupa.
“Usulan kami mencakup berbagai subsektor, mulai dari tenun, musik, kuliner, fashion, fotografi, konten digital, film, hingga seni rupa,” kata H. A. Rahman saat memaparkan potensi daerah.
Wali Kota Bima menjelaskan, ekonomi kreatif di daerahnya tumbuh dari kekuatan budaya dan kearifan lokal. Saat ini ada sekitar 1.500 unit usaha tenun ikat yang menjadi andalan utama. Selain itu berkembang pula seni pertunjukan, musik, kuliner, fesyen, desain produk, fotografi, dan konten digital.
Yang menarik, Kota Bima kini memiliki 500 hingga 1.500 konten kreator lokal dan regional. Mereka berperan sebagai agen promosi digital untuk memperkenalkan daerah lebih luas.
“Konten kreator menjadi peluang baru bagi generasi muda untuk memperoleh pendapatan sekaligus mempromosikan Kota Bima secara digital,” ujar Wali Kota Bima.
Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar namun tingginya penggunaan media sosial, Kota Bima dinilai punya potensi besar dalam ekonomi digital berbasis konten dan produk kreatif.
Potensi Ekraf Segera Dipetakan
Menanggapi paparan tersebut, Menteri Teuku Riefky langsung memberikan respons positif. Ia memerintahkan jajarannya untuk memetakan potensi ekonomi kreatif Kota Bima lebih detail.
“Saya meminta jajaran saya untuk memotret potensi Ekraf di Kota Bima,” ungkap Teuku Riefky.
Menteri juga berjanji akan menunjuk petugas khusus yang menjembatani komunikasi antara pusat dan daerah. Bahkan ia menjadwalkan kunjungan langsung ke Kota Bima untuk melihat potensi di lapangan.
Tidak hanya janji, Menteri Teuku Riefky juga memberikan usulan konkret. Ia mendorong agar nama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bima ditambahkan kata ekonomi kreatif. Tujuannya agar program pusat dan daerah bisa berjalan seiring.
Menteri Teuku Riefky menjelaskan, pemerintah tengah memperkuat cara penetapan kota kreatif. Caranya dengan memverifikasi subsektor unggulan di setiap daerah. Subsektor inilah yang akan menjadi penggerak subsektor lain di wilayah tersebut.
“Sejak 2016 sudah ada 81 kota dan kabupaten yang melakukan verifikasi mandiri,” ujar Menteri Teuku Riefky.
Ke depan, Kementerian Ekonomi Kreatif akan menetapkan kota kreatif melalui peraturan menteri setelah verifikasi selesai.
Menteri Teuku Riefky menekankan pentingnya penguatan dari berbagai sisi. Mulai dari peningkatan kemampuan pelaku usaha, perlindungan hak kekayaan intelektual, kemudahan pembiayaan, sampai perluasan pasar.
Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif Cecep Rukendi turut menyatakan kesiapannya mengunjungi Kota Bima sesuai arahan menteri. Bahkan dengan nada bercanda ia menyebut ingin mencoba susu kuda liar khas Bima.
Wali Kota Bima merespons positif usulan perubahan nama dinas. Di akhir pertemuan, ia memerintahkan timnya mengkaji penambahan kata ekonomi kreatif pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
