Kecurangan Tes Kesehatan Calon Jemaah Haji Terungkap, Ada yang Pakai Urine Suami

oleh -199 Dilihat
oleh
Nanang Samodra Di Acara Diseminasi Haji Di Mataram
Anggota Komisi VIII DPR RI Nanang Samodra berfoto bersama dalam suatu acara di Universitas Islam Al Azhar Mataram, NTB, Minggu (30/11/25).

MATARAM – Anggota Komisi VIII DPR RI Nanang Samodra mengungkap praktik kecurangan dalam pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji.

Dalam acara di Universitas Islam Al Azhar Mataram, NTB, Ahad (30/11/25), dia menceritakan temuan mengejutkan di embarkasi.

“Saya pernah menemukan di embarkasi lain, ada yang tidak bisa diberangkatkan karena pada saat mau berangkat ketahuan hamil. Rupanya, pada saat tes urine dulu, urine suaminya mungkin yang dikasihkan ke petugas kesehatan,” tutur Nanang.

Kasus itu baru ketahuan saat pemeriksaan terakhir. Calon jemaah perempuan tersebut sudah hamil enam bulan.

Kisah kecurangan itu muncul dalam acara Diseminasi “Strategi Pengelolaan dan Pengawasan Keuangan Haji” di Universitas Al Azhar tersebut.

Hadir di kesempatan itu Anggota Pengawas BPKH Yogashwara Vidyan, Anggota DPRD Kota Mataram Drs. H. M. Zaini dan Dian Rachmawati, serta Kepala Kantor Kementerian Haji Provinsi NTB H. Lalu Muhammad Aminuddin.

Selain itu hadir perwakilan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuda, hingga perempuan.

Nota Diplomatik dari Arab Saudi

Ketegasan soal pemeriksaan kesehatan bukan tanpa alasan. Pemerintah Indonesia bahkan menerima nota diplomatik dari Arab Saudi pada tahun 2025 akibat tingginya angka jemaah yang meninggal dan sakit di Tanah Suci.

“Maka Pemerintah Indonesia membuat ketentuan, bahwa barangsiapa yang berangkat ke Arab Saudi wajib istitha’ah kesehatan, harus sehat badannya (fisiknya). Tidak boleh yang sakit yang diberangkatkan,” tegas Nanang.

Aturan ini menegaskan bahwa calon jemaah wajib memenuhi syarat kesehatan fisik. Kondisi tubuh harus benar-benar prima sebelum diberangkatkan.

Kuota Haji Belum Sesuai Jumlah Penduduk

Nanang juga menyoroti masalah kuota haji Indonesia yang masih 221 ribu jemaah per tahun. Angka ini dihitung berdasarkan satu per seribu penduduk dengan acuan populasi 220 juta jiwa.

Padahal, jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah melampaui 270 juta jiwa. Namun kuota belum disesuaikan.

Keterbatasan sebenarnya ada di Arab Saudi, khususnya di Padang Arafah. Saat puncak ibadah haji, lokasi itu hanya mampu menampung 2,5 juta orang.

“Jemaah terbesar di dunia adalah dari Indonesia. Tetapi juga yang paling tertib,” kata Ketua Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar Mataram itu.

Jangan Sia-siakan Waktu di Arafah

Nanang memberikan pesan spiritual kepada calon jemaah. Dia mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu paling sakral saat wukuf di Arafah.

“Wukuf itu dari selesai khutbah Zuhur sampai Magrib. Itu doa paling makbul. Tapi banyak yang malah tidur. Sudah jauh-jauh, bayar mahal-mahal, cuma datang ke situ untuk tidur,” tutur Nanang.

Dia mengingatkan agar waktu tersebut digunakan sebaik-baiknya untuk berdoa. Doa bisa dipanjatkan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat.

Jadi kolumnis di Demokrat News!
Tulis apa saja, gaya bebas sesukamu. Cerita-cerita keseharian, pemikiran, atau perasaanmu. Baca ketentuannya di sini.