Sebanyak 84 unit dibangun menggunakan sistem modular dengan 114 modul yang mampu menampung 336 jiwa.
Fasilitas pendukung lengkap tersedia, termasuk 42 unit MCK, area komunal, area jemur, mushola, genset, dan toren air.

Sistem air bersih berasal dari sumur bor dan tandon, pengolahan limbah menggunakan biotek, serta listrik dari PLN.
AHY mengapresiasi kualitas huntara yang dibangun. Dia mengaku senang karena huntara bukan hanya untuk tempat tidur, tetapi juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti kamar mandi, toilet, dapur bersama, dan taman untuk anak-anak.
“Selain pulih secara fisik, juga proses healing ini sudah dimulai dari hunian, dan ini penting,” tegasnya.
Material huntara dipilih tahan lama hingga 10 tahun dan bisa dibongkar pasang untuk digunakan di lokasi lain jika tidak diperlukan.
Standar konstruksi disesuaikan untuk iklim tropis dengan sirkulasi udara baik, atap berlapis aluminium foil untuk memantulkan panas, dan turbin manual di atas atap.
Setiap kamar berukuran 3×6 meter dilengkapi dua tempat tidur, lemari, dan kipas angin.
Pembangunan huntara diselesaikan dalam waktu 18 hari dan menyerap 600 tenaga kerja, separuhnya dari tenaga lokal.
Proyek dilaksanakan PT Wijaya Karya di bawah tanggung jawab Ditjen Prasarana Strategis Kementerian PU.
Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan huntara menjadi solusi hunian layak selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pembangunan dilakukan bertahap mulai dari penyiapan lahan, pembangunan unit, hingga penyediaan sarana sanitasi dan air bersih.
“Kami memastikan hunian ini dapat segera ditempati masyarakat,” jelasnya.
Dody menambahkan, Kementerian PU mendapat amanah membangun 1.200 unit huntara sebagai upaya pemulihan bencana di Sumatera.
Di Aceh Tamiang, akan dibangun huntara kedua tidak jauh dari lokasi pertama dengan luas lahan 13.248 meter persegi untuk 156 kepala keluarga atau sekitar 624 jiwa.