Klaster pertama terdiri dari lima orang. Mereka adalah Eggi Sudjana, Kurnia Tri Rohyani, Damai Hari Lubis, Rustam Effendi dan Muhammad Rizal Fadillah.
Klaster kedua terdiri dari tiga orang yakni Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar dan Tifauziah Tyassuma yang juga dikenal dengan sebutan dr Tifa. Ketiga orang ini yang kemudian sering disebut sebagai trio RRT.
Dari delapan tersangka tersebut, Roy Suryo menjadi sorotan khusus. Latar belakangnya sebagai mantan politikus Partai Demokrat membuat publik mengaitkannya dengan SBY.
Roy Suryo pernah menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada masa pemerintahan SBY. Hubungan kerja di masa lalu ini yang kemudian dijadikan alasan untuk menuding adanya keterkaitan antara SBY dengan isu ijazah Jokowi.
Media sosial kemudian dipenuhi narasi yang menyebut SBY sebagai otak di balik munculnya isu tersebut.
Logika yang dibangun adalah karena Roy Suryo dulu bagian dari tim SBY, maka tindakannya saat ini pasti atas perintah atau setidaknya sepengetahuan mantan atasannya.
Padahal, tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan SBY dalam persoalan ini. Roy Suryo sudah tidak aktif di Partai Demokrat sejak lama dan bergerak atas inisiatif sendiri dalam mempertanyakan keabsahan ijazah Jokowi.
Membaca Strategi Politik di Balik Somasi
Pengamat politik Arifki Chaniago mengatakan penggunaan jalur hukum oleh SBY bisa dimaknai sebagai cara membatasi spekulasi yang berpotensi merusak hubungannya dengan Jokowi.
“Langkah hukum yang diambil oleh Pak SBY tepat karena diamnya selama ini juga tidak menguntungkan. Karena yang menikmati isu ijazah Jokowi berbagai kelompok politik. Jika situasi ini tidak disikapi oleh SBY, maka bakal mengunci ruang komunikasi SBY dan Jokowi dalam momentum politik kedepan,” ungkap Arifki.
Menurutnya, dengan fokus mempersoalkan sumber tuduhan ketimbang ikut berdebat soal substansi ijazah, SBY ingin memperjelas posisinya. Ia tidak ingin dikaitkan dengan upaya melemahkan legitimasi Jokowi.
Jika dibiarkan berlarut, isu ini bisa merusak komunikasi politik antara kedua tokoh yang selama ini berjalan cukup baik. Jarak dan kecurigaan yang tidak perlu bisa tercipta antara SBY dan Jokowi.
Arifki menilai hubungan politik SBY dengan Jokowi selama ini cukup terbuka. Buktinya, Agus Harimurti Yudhoyono mendapat kesempatan menjadi menteri untuk pertama kalinya di era Jokowi.
AHY diangkat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus memimpin Badan Pertanahan Nasional dalam Kabinet Indonesia Maju. Penunjukan ini membuktikan tidak ada masalah berarti dalam relasi politik antara keluarga Yudhoyono dan Jokowi.





