Dari Tukang Becak hingga Sekretaris DPD Demokrat Aceh, Ini Perjalanan Arif Fadillah

oleh -461 Dilihat
oleh
Arif Fadillah Sekretaris Dpd Demokrat Aceh
Arif Fadillah, Sekretaris DPD Partai Demokrat Aceh yang memulai karier politik dari tukang becak hingga menjabat Ketua DPRK Banda Aceh.

DEMOKRAT NEWS – Arif Fadillah kini menjabat Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Aceh periode 2021-2026. Bagi pria kelahiran 10 Juli 1973 ini, posisi tersebut adalah jalan untuk berbuat lebih banyak bagi rakyat Aceh.

Ketua DPD Partai Demokrat Muslim menempatkan Arif sebagai Sekretaris bukan tanpa alasan. Arif memiliki pengalaman panjang di dunia politik, mulai dari Ketua Dewan Pimpinan Ranting Gampong Emperom tahun 2002, Ketua Demokrat Kecamatan Jaya Baru tahun 2009, hingga Ketua Demokrat Kota Banda Aceh sejak 2017.

Tahun 2009, masyarakat Dapil 1 Jaya Baru dan Banda Raya memilih Arif menjadi anggota DPRK Banda Aceh. Kala itu, Partai Demokrat meraih delapan kursi dan Arif dipercaya sebagai Ketua Fraksi.

Periode 2014-2019, Arif kembali terpilih dan menjabat Ketua DPRK Kota Banda Aceh. Selama kepemimpinannya, banyak terobosan dilakukan dalam bidang regulasi, pengawasan pembangunan, dan anggaran untuk kepentingan masyarakat.

Pencapaian ini terlihat dari prestasi Pemerintah Kota Banda Aceh, termasuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang dirasakan warga. Arif berhasil membawa DPRK Banda Aceh bekerja maksimal untuk kemajuan kota.

Ibu Jual Kue, Arif Antar Pesanan

Arif tumbuh dari keluarga sederhana di Kuta Alam, Banda Aceh. Ayahnya Yusuf Hasan berasal dari Samalanga, Bireun, sementara ibunya Murgini dari Kuta Alam.

Nasib Arif kurang beruntung di masa kecil karena orang tuanya berpisah saat ia masih kecil. Dia harus menjalani masa kanak-kanak tanpa sosok ayah.

“Soal itu Ibu punya prinsip kuat. Sejak itu kami di Kuta Alam memulai hidup baru. Ibu menjadi tulang punggung keluarga,” kata Arif.

Sang ibu bekerja keras dengan membuat dan menjual kue, bahkan menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Meski hidup susah, ibunya tetap menerapkan disiplin tinggi pada anak-anaknya. Arif, sebagai anak keempat dari lima bersaudara, bertugas mengantar kue ke warung-warung.

Usaha sang ibu terus berkembang hingga membuka catering kecil-kecilan. Arif kemudian mengantar nasi rantangan untuk pelanggan mulai dari mahasiswa, polisi, tentara, hingga pegawai negeri menggunakan sepeda BMX.

Pekerjaan itu dijalani Arif hingga duduk di bangku Sekolah Teknik Menengah Lampineung, Banda Aceh. Arif selalu dipilih menjadi ketua kelas dari MIN hingga STM.

Mimpi Kuliah Kandas, Bekerja di Perusahaan Konsultan

Selesai STM tahun 1991, sang ibu menjelaskan tidak mampu membiayai kuliah Arif lagi. Kondisi ibu yang sudah tidak muda membuat tenaganya melemah.

“Bilapun kamu ingin tetap kuliah, carilah uang sendiri,” cerita Arif mengenang kata ibunya.

Arif tidak patah semangat. Berbekal ijazah dengan nilai di atas rata-rata, dia diterima bekerja di perusahaan konsultan teknik Seni Bina.

“Alhamdulillah, di tengah kebuntuan, saya justru dilirik oleh perusahaan konsultan. Sementara saat itu banyak yang seumuran dengan saya justru menjadi pengangguran,” katanya.

Menjadi Tukang Becak di Banda Aceh

Tahun 1997, Arif menikahi Supiyati, perempuan asal Cirebon yang dikirim ke Aceh sebagai pendamping transmigrasi di Leungah, Aceh Besar. Karena situasi konflik di Aceh, mereka pindah ke Cirebon dan terjun ke dunia perdagangan.

Di Cirebon, Arif juga memulai karir politik di Partai Amanat Nasional Jawa Barat. Walau lulus tes kelayakan caleg dengan nilai memuaskan, dia bukan prioritas karena berasal dari Aceh.