JAKARTA – Bursa saham Indonesia yang turun tajam beberapa hari terakhir bukan pertanda ekonomi nasional sedang lemah. Penurunan itu lebih karena reaksi berlebihan investor terhadap pengumuman lembaga indeks global MSCI.
Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mengatakan, tekanan di pasar saham ini sifatnya hanya sementara. Pemicunya adalah keputusan MSCI yang mempertanyakan transparansi data kepemilikan saham perusahaan-perusahaan di Indonesia.
MSCI memang membekukan sementara penyesuaian indeks dan menunda penyeimbangan ulang portofolio. Tapi menurut Marwan, langkah itu bukan hukuman, melainkan peringatan agar pengelolaan pasar modal diperbaiki.
“Isu ini kerap ditafsirkan berlebihan sebagai ancaman sistemik, padahal sifatnya teknis dan administratif,” kata Marwan kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).
Marwan yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat DPR itu menjelaskan, kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya masih kuat. Pertumbuhan ekonomi bertahan di angka 5 persen, harga-harga barang terkendali, cadangan dollar negara cukup, dan utang pemerintah masih rendah dibanding ukuran ekonomi.
Karena itu, menurut Marwan, tidak masuk akal jika penurunan bursa sedalam ini disebabkan oleh masalah mendasar di ekonomi. Ia menyebut situasi ini lebih sebagai ujian mental pasar, bukan bukti rapuhnya perekonomian.
Marwan mengapresiasi komitmen Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia untuk menindaklanjuti masukan MSCI. Ia meminta investor tidak panik dan tetap berpikir jangka panjang.
“Pasar tidak membutuhkan kepanikan, melainkan keyakinan yang rasional,” ujarnya.
Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan perbaikan terus-menerus, Marwan yakin pasar modal Indonesia akan semakin dewasa dan dipercaya investor global.
Jadi kolumnis di Demokrat News!
Tulis apa saja, gaya bebas sesukamu. Cerita-cerita keseharian, pemikiran, atau perasaanmu. Baca ketentuannya di sini.
