SBY sendiri menegaskan bahwa musik merupakan bahasa universal yang bisa menembus batas-batas identitas dan politik. Menurutnya, lagu dapat menjangkau wilayah yang kadang gagal disentuh politik.
Lagu “Save Our World” pertama kali terinspirasi ketika SBY menghadiri konferensi internasional tentang iklim dan kehutanan di Oslo, Norwegia tahun 2010.
Bersama Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg, SBY menjadi ketua bersama konferensi yang dihadiri para pemimpin dunia termasuk yang kini menjadi Raja Charles.
“Setelah tiga hari tiga malam berada di Oslo, sebelum kembali ke Jakarta, saya terinspirasi. Karena semangatnya luar biasa, why not saya menulis lagu?” kenang SBY.
Versi pertama lagu ini pernah dimainkan dalam pembukaan acara APEC di Honolulu tahun 2011, menunjukkan resonansi internasional dari pesan yang dibawakan.
Kolaborasi 35 musisi ini juga menjadi bentuk dukungan konkret seniman Indonesia terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. Melalui karya bersama, mereka menyuarakan komitmen tinggi untuk berbuat nyata dalam penyelamatan bumi.
Acara peluncuran yang dihadiri para menteri Kabinet Merah Putih, duta besar negara sahabat, dan tokoh-tokoh nasional ini menandai upaya The Yudhoyono Institute dalam menggunakan kekuatan seni untuk mengampanyekan isu lingkungan kepada masyarakat luas.
Lagu “Save Our World” versi ketiga ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam aksi nyata penyelamatan bumi dari ancaman perubahan iklim.
